Kumpulan Anak Soleh dan Soleha

Monday, 14 October 2013

Sejarah Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih

Bendera Pusaka
Pengibaran pertama Bendera Pusaka
Bendera Pusaka Sang Saka Merah
Putih adalah sebutan bagi bendera
Indonesia yang pertama. Bendera
Pusaka dibuat oleh Ibu Fatmawati,
istri presiden Soekarno. Bendera
Pusaka pertama kali dinaikkan pada
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
pada 17 Agustus 1945. Walaupun
seharusnya Bendera Pusaka disimpan
di Monas , Bendera Pusaka masih
disimpan di Istana Negara .
Sejarah
Bendera Pusaka dijahit oleh istri
Soekarno yaitu Fatmawati. [1] Desain
bendera dibuat berdasarkan bendera
Majapahit pada abad ke-13, yang
terdiri dari sembilan garis berwarna
merah dan putih tersusun secara
bergantian. [2]
Bendera Pusaka pertama dinaikkan di
rumah Soekarno di Jalan Pengangsaan
Timur 56, Jakarta, setelah Soekarno
membacakan Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia.[3] Bendera
dinaikkan pada tiang bambu oleh
Paskibraka yang dipimpin oleh Kapten
Latief Hendraningrat . Setelah
dinaikkan, lagu " Indonesia Raya "
kemudian dinyanyikan secara
bersama-sama. [2][4]
Pada tahun pertama Revolusi Nasional
Indonesia, Bendera Pusaka dikibarkan
siang dan malam. Setelah Belanda
menguasai Jakarta pada 1946,
Bendera Pustaka dibawa ke
Yogyakarta dalam koper Soekarno.
Ketika terjadi Operatie Kraai , Bendera
Pustaka dipotong dua lalu diberikan
kepada Husein Mutahar untuk
diamankan. Mutahar diharuskan untuk
"menjaga bendera dengan nyawa".
Walaupun kemudian ditangkap lalu
melarikan diri dari tentara Belanda,
Mutahar berhasil membawanya
kembali ke Jakarta, menjahit kembali,
dan memberikannya pada Soedjono.
Soedjono lalu kemudian membawa
benderanya ke Soekarno, yang berada
dalam pengasingan di Bangka .[4]
Setelah perang berakhir, Bendera
Pusaka selalu dinaikkan sekali di
depan Istana Negara pada Hari
Kemerdekaan. [1] Namun karena
kerapuhan bendera, sejak tahun 1968,
bendera yang dinaikkan di Istana
Negara adalah replika yang terbuat
dari sutra. [5]
Arti dan simbolisme
Bendara Pusaka terdiri dari dua
warna, merah di atas dan putih di
bawah dengan ratio 2:3. Warna merah
melambangkan keberanian, sementara
warna putih melambangkan kesucian.
[3] Namun, juga terdapat arti lain,
salah satunya adalah merah
melambangkan gula aren dan putih
melambangkan nasi, keduanya adalah
bahan yang penting dalam masakan
Indonesia. [2]
Dampak sosial
Artikel utama untuk bagian ini adalah:
Paskibraka
Paskibraka di Aceh, ketika upacara
bendera
Bendera Pusaka merupakan nama dari
organisasi mahasiswa Pasukan
Pengibar Bendera Pusaka, atau
kependekan nya Paskibraka; bahasa
Inggris : Bendera Pusaka Flag Hoisting
Troop). Organisasi yang dibentuk oleh
Husein Mutahar pada tahun 1968 ini,
bertugas sebagai pengibar bendera
pada upacara. [4]
TENTANG PASKIBRAKA
Paskibraka adalah singkatan dari
Pasukan Pengibar Bendera Pusaka
dengan tugas utamanya mengibarkan
duplikat bendera pusaka dalam
upacara peringatan proklamasi
kemerdekaan Indonesia di 3 tempat,
yakni tingkat Kabupaten/Kota (Kantor
Bupati/Walikota), Provinsi (Kantor
Gubernur), dan Nasional (Istana
Negara). Anggotanya berasal dari
pelajar SLTA Sederajat kelas 1 ATAU
2. Penyeleksian anggotanya biasanya
dilakukan sekitar bulan April untuk
persiapan pengibaran pada 17 Agustus
Lambang
Lambang dari organisasi paskibraka
adalah bunga teratai
tiga helai daun yang tumbuh ke
atas: artinya paskibra harus
belajar, bekerja, dan berbakti
tiga helai daun yang tumbuh
mendatar/samping: artinya
seorang pakibra harus aktif,
disiplin, dan bergembira
Sejarah Paskibraka
Gagasan Paskibraka lahir pada tahun
1946, pada saat ibukota Indonesia
dipindahkan ke Yogyakarta.
Memperingati HUT Proklamasi
Kemerdekaan RI yang ke-1, Presiden
Soekarno memerintahkan salah satu
ajudannya, Mayor (Laut) Husein
Mutahar, untuk menyiapkan
pengibaran bendera pusaka di
halaman Istana Gedung Agung
Yogyakarta. Pada saat itulah, di benak
Mutahar terlintas suatu gagasan
bahwa sebaiknya pengibaran bendera
pusaka dilakukan oleh para pemuda
dari seluruh penjuru Tanah Air, karena
mereka adalah generasi penerus
perjuangan bangsa yang bertugas.
Tetapi, karena gagasan itu tidak
mungkin terlaksana, maka Mutahar
hanya bisa menghadirkan lima orang
pemuda (3 putra dan 2 putri) yang
berasal dari berbagai daerah dan
kebertulan sedang berada di
Yogyakarta. Lima orang tersebut
melambangkan Pancasila. Sejak itu,
sampai tahun 1949, pengibaran
bendera di Yogyakarta tetap
dilaksanakan dengan cara yang sama.
Ketika Ibukota dikembalikan ke
Jakarta pada tahun 1950, Mutahar
tidak lagi menangani pengibaran
bendera pusaka. Pengibaran bendera
pusaka pada setiap 17 Agustus di
Istana Merdeka dilaksanakan oleh
Rumah Tangga Kepresidenan sampai
tahun 1966. Selama periode itu, para
pengibar bendera diambil dari para
pelajar dan mahasiswa yang ada di
Jakarta.
Tahun 1967, Husein Mutahar dipanggil
presiden saat itu, Soekarno, untuk
menangani lagi masalah pengibaran
bendera pusaka. Dengan ide dasar
dari pelaksanaan tahun 1946 di
Yogyakarta, beliau kemudian
mengembangkan lagi formasi
pengibaran menjadi 3 kelompok yang
dinamai sesuai jumlah anggotanya,
yaitu:
Kelompok 17 / pengiring
(pemandu),
Kelompok 8 / pembawa (inti),
Kelompok 45 / pengawal.
Jumlah tersebut merupakan simbol
dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan
RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada
waktu itu dengan situasi kondisi yang
ada, Mutahar hanya melibatkan putra
daerah yang ada di Jakarta dan
menjadi anggota Pandu/ Pramuka
untuk melaksanakan tugas pengibaran
bendera pusaka. Rencana semula,
untuk kelompok 45 (pengawal) akan
terdiri dari para mahasiswa AKABRI
(Generasi Muda ABRI) namun tidak
dapat dilaksanakan. Usul lain
menggunakan anggota pasukan
khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT,
marinir , dan Brimob ) juga tidak
mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan
Pengawal Presiden (PASWALPRES)
yang mudah dihubungi karena mereka
bertugas di Istana Negara Jakarta.
Mulai tanggal 17 Agustus 1968,
petugas pengibar bendera pusaka
adalah para pemuda utusan provinsi.
Tetapi karena belum seluruh provinsi
mengirimkan utusan sehingga masih
harus ditambah oleh ex-anggota
pasukan tahun 1967 .
Pada tanggal 5 Agustus 1969, di Istana
Negara Jakarta berlangsung upacara
penyerahan duplikat Bendera Pusaka
Merah Putih dan reproduksi Naskah
Proklamasi oleh Suharto kepada
Gubernur /Kepala Daerah Tingkat I
seluruh Indonesia. Bendera duplikat
(yang terdiri dari 6 carik kain) mulai
dikibarkan menggantikan Bendera
Pusaka pada peringatan Hari Ulang
Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI
tanggal 17 Agustus 1969 di Istana
Merdeka Jakarta, sedangkan Bendera
Pusaka bertugas mengantar dan
menjemput bendera duplikat yang
dikibar/diturunkan. Mulai tahun 1969
itu, anggota pengibar bendera pusaka
adalah para remaja siswa SLTA se-
tanah air Indonesia yang merupakan
utusan dari seluruh provinsi di
Indonesia, dan tiap provinsi diwakili
oleh sepasang remaja.
Istilah yang digunakan dari tahun 1967
sampai tahun 1972 masih "Pasukan
Pengerek Bendera Pusaka". Baru pada
tahun 1973 , Idik Sulaeman
melontarkan suatu nama untuk
Pengibar Bendera Pusaka dengan
sebutan PASKIBRAKA. PAS berasal
dari PASukan, KIB berasal dari KIBar
mengandung pengertian pengibar, RA
berarti bendeRA dan KA berarti
PusaKA. Mulai saat itu, anggota
pengibar bendera pusaka disebut
Paskibraka.