Kumpulan Anak Soleh dan Soleha

Tuesday, 8 October 2013

LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM

LANDASAN PENGEMBANGAN
KURIKULUM
1. LANDASAN FILOSOFIS
Kurikulum merupakan salah satu
komponen yang memiliki peran
penting dalam sistem pendidikan . Di
dalamnya tidak hanya mengandung
rumusan tujuan yang harus dicapai,
tetapi juga pemahaman tentang
pengalaman belajar yang harus
dimiliki setiap anak didik. Begitu
pentingnya fungsi dan peran kurikulum
dalam menentukan keberhasilan
pendidikan, karena itu kurikulum
harus dikembangkan dengan fondasi
yang kuat. Untuk mendirikan bangunan
kurikulum diperlukan beberapa
landasan. Sanjaya (2008) menyatakan
bahwa landasan pengembangan
kurikulum ada tiga yaitu landasan
filosofis, psikologis, dan landasan
sosiologis-teknologis. Mari kita bahas
satu persatu, dalam laman ini kita
bahas terlebih dahulu landasan
filosofis.
Filsafat berasal dari bahasa Yunani
kuno “philos” dan “sophia”. Philos,
artinya cinta yang mendalam, an
Sophia adalah kearifan atau
kebijaksanaan. Dari arti harfiah ini,
Filsafat diartikan sebagai cinta yang
mendalam akan kearifan. Secara
popular filsafat sering diartikan
sebagai pandangan hidup suatu
masyarakat atau pendirian hidup bagi
individu. Henderson (1959)
mengemukakan “popularly philosophy
means one’s general view of live of
men, of ideals, and of values, in the
sense everyone has a philosophy of
life”. Dengan demikian maka jelas
setiap individu atau setiap kelompok
masyarakat secara filosofis memiliki
pandangan hidup yang mungkin
berbeda sesuai dengan nilai-nilai
yang dianggapnya baik.
Dalam pengembangan kurikulum
filsafat menjawab hal-hal mendasar
bagi pengembangan kurikulum, antara
lain ke mana anak didik akan dibawa ?
masyarakat yang bagaimana yang
akan dibentuk melalui pendidikan
tersebut ? apa hakikat pengetahuan
yang akan diajarkan kepada anak
didik ?norma atau system yang
agaimana yang harus diwariskan
kepada anak didik sebagai generasi
penerus ? bagaimana proses
pendidikan harus dijalankan ?
Demikian mendasarnya pertanyaan-
pertanyaan yang harus dijawab oleh
filsafat. Dengan kedudukannya yang
begitu mendasar, filsafat memiliki
paling tidak empat fungsi yaitu :
1.Filsafat dapat menentukan arah dan
tujuan pendidikan
2.Filsafat dapat menentukan isi atau
materi pelajaran yang harus diberikan
sesuai dengan tujuan yang ingin
dicapai
3.Filsafat dapat menentukan strategi
atau cara pencapaian tujuan
4.Filsafat dapat menentukan tolok
ukur keberhasilan proses pendidikan.
Filsafat sebagai sebuah system nilai
(value system) menjadi dasar yang
menentukan tujuan pendidikan. Hal ini
mengandung arti bahwa pandangan
hidup atau sistem nilai yang dianggap
baik dan dijadikan pedoman bagi
masyarakat akan tercermin dalam
tujuan pendidikan yang harus dicapai,
karena kurikulum pada hakikatnya
berfungsi untuk mempersiapkan
anggota masyarakat yang dapat
mempertahankan, mengembangkan
diri dan dapat hidup dalam system
nilai masyarakatnya sendiri.
Indonesia memiliki Pancasila sebagai
system nilai yang menjadi pedoman
hidup bangsa, karena itu tujuan dan
arah dari segala ikhtiar berbagai level
dan jenis pendidikan adalah
membentuk manusia yang
Pancasilais. Dengan demikian isi
kurikulum yang disusun harus memuat
dan mencerminkan nilai-nilai
Pancasila. Pancasila harus menjadi
bingkai bagi pengembangan tiga
domain (bidang) yang menjadi tujuan
pendidikan menurut Bloom (1965)
meliputi kognitif, afektif, dan
psikomotor. Kecerdasan yang harus
dikembangkan, sikap yang harus
ditanamkan, dan keterampilan yang
harus dikuasai oleh setiap anak didik
harus selalu diwarnai dan dijiwai
nilai-nilai Pancasila. Dengan
demikian Pancasila bingkai dari
tujuan dan pelaksanaan pendidikan
Indonesia.
Filsafat juga merupakan proses
berpikir. Filsafat sering diartikan
sebagai cara berpikir. Berfikir filosofis
adalah berfikir yang memiliki ciri-ciri
tertentu. Ciri-ciri tersebut menurut
Sidi Gazalba (Uyoh Sadulloh : 2004)
antara lain : berpikir radikal (radical
thinking), sistematis, dan universal.
Berpikir radikal yaitu berpikir sampai
ke akar-akarnya, sampai pada
konsekuensi terakhir. Berpikir
sistematis adalah berpikir logis yang
bergerak selangkah demi selangkah,
dengan penuh kesadaran dengan
urutan yang bertanggung jawab dan
saling berhubungan yang teratur.
Berpikir universal adalah tidak
berpikir secaa khusus, yang hanya
terbatas kepada bagian-bagian
tertentu, melainkan mencakup
keseluruhan secara sistematis dan
logis sampai ke akar-akarnya. Orang
yang berfilsafat selalu berpikir secara
mendalam tentang masalah secara
menyeluruh sebagai upaya mencari
dan menemukan kebenaran.
Dalam perkembangan filsafat, ternyata
pandangan tentang hakikat kebenaran
berbeda-beda. Ada empat aliran utama
dalam filsafat yaitu idealisme,
realisme, pragmatisme, dan
eksitensialisme. Masing-masing
aliran mengkaji tentang cabang
filsafat , antara lain metafisika
(hakikat dunia kenyataan),
epistemologi (hakikat pengetahuan),
aksiologi (nilai-nilai). Setiap aliran
memiliki pandangan yang berbeda
tentang cabang-cabang tersebut.
Pandangan tersebut antara lain :
1. Idealisme , memandang bahwa
kebenaran datangnya dari “Yang Maha
Kuasa”. Manusia tidak akan dapat
melihatnya secara lengkap. Apa yang
dilihat manusia tentang kenyataan itu
hanya bayang-bayangnya. Seperti
halnya orang bercermin. Manusia
hanya mampu menemukan kebenaran
yang sebenarnya sudah ada, itu pun
hanya sebagian kecil saja, sementara
banyak kebenaran yang tidak mungkin
manusia mampu menangkapnya.
Pengaruhnya terhadap pandangan
terhadap pengetahuan, yaitu bahwa
aliran ini menganggap bahwa
pengetahuan itu datangnya dari
kekuasaan yang Maha Tinggi seoerti
yang telah ditemukan oleh para
pemikir terdahulu. Demikian juga
tentang norma seluruhnya telah diatur
oleh “Yang Maha” tersebut. Manusia
tidak perlu meragukan kebenarannya
selain harus mematuhinya.
2. Realisme, memandang bahwa
manusia pada dasarnya dapat
menemukan dan mengenal realitas
sebagai hokum-hukum universal,
hanya saja dalm menemukannya
dibatasi oleh kelambanan sesuai
dengan kemampuannya. Pengetahuan
dapat diperoleh secara ilmiah melalui
fakta dan kenyataan yang dapat
diindra. Kebenaran menurut aliran ini
adalah bila sesuatu itu dapat
dibuktikan melalui pengalaman,
manakala tidak dapat dibuktikan maka
ia bukan merupakan kebenaran.
Mengenai norma dan nilai, menurut
pandangan aliran ini disesuaikan
dengan penemuan ilmiah. Norma
dapat berubah sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
3. Pragmatisme, memandang bahwa
kenyataan itu pada hakikatnya berada
pada hubungan social, antara manusia
dengan manusia lainnya. Berkat
hubungan social tersebut manusia
dapat memperbaiki mutu
kehidupannya. Pengetahuan diperoleh
dari pengamatan dan konteks sosial
yang berguna untuk kehidupan
masyarakat. Norma dapat berbeda-
beda sesuai dengan kebutuhan
masyarakat, karena yang menjadi
ukuran adalah kehidupan sosial.
4. Eksistensialisme, memandang
bahwa sebagai individu setiap
manusia memiliki kelemahan-
kelemahan, namun demikian setiap
individu itu dapat memperbaiki dirinya
sendiri sesuai dengan norma-norma
dan keyakinan yang ditentukannya
sendiri. Setiap individu memiliki
kebebasan untuk memilih. Norma-
norma ditentukan sendiri sesuai
dengan kebebasannya itu. Karena itu
setiap individu dapat memiliki norma
yang berbeda.
Perbedaan pandangan ini selanjutnya
berpengaruh terhadap isi dan strategi
kurikulum. Kurikuum yang cenderung
bersifat idealis akan berbeda dengan
kurikulum yang berorientasi kepada
aliran, realis, pragmatis, atau
eksistensialis. Namun demikian, para
pengembang kurikulum dapat
menggabungkan keempat aliran
tersebut dalam penyusunan kurikulum.
Suatu contoh dalam pendidikan moral,
menggunakan aliran idealis, tetapi
untuk science perlu dikembangkan
juga sikap aliran realisme.

Pentingnya Landasan Psikologis
dalam Pengembangan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan
oleh Lilis Yuliawati
Kurikulum sebagai rancangan dari
pendidikan, mempunyai kedudukan
yang cukup sentral dalam keseluruhan
kegiatan pendidikan, menentukan
proses pelaksanaan dan hasil
daripada pendidikan. Mengingat begitu
pentingnya peranan kurikulum dalam
pendidikan dan di perkembangan
kehidupan manusia, maka
pengembangan kurikulum tidak dapat
dirancang sembarangan.
Pengembangan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP)
membutuhkan landasan yang kuat,
didasarkan atas hasil pemikiran dan
penelitian yang mendalam. Salah satu
landasan yang berkaitan dengan
peranan anak dalam pengembangan
kurikulum adalah landasan psikologis.
Implikasi psikologis merupakan salah
satu landasan pengembangan
kurikulum, secara khusus implikasi
psikologis bagi guru membantu guru
sebagai desainer, developer dan
sekaligus sebagai barisan paling
depan yakni sebagai implementor
kurikulum.