Kumpulan Anak Soleh dan Soleha

Monday, 14 October 2013

Asal usul Sejarah nama Indonesia

Berdasarkan artikel dari wikipedia kami memperoleh informasi bahwa..
Sejarah nama Indonesia
Untuk artikel tentang nama orang-
orang Indonesia, lihat Nama
Indonesia
Nama Indonesia berasal dari berbagai
rangkaian sejarah yang puncaknya
terjadi di pertengahan abad ke-19.
Catatan masa lalu menyebut
kepulauan di antara Indocina dan
Australia dengan aneka nama,
sementara kronik- kronik bangsa
Tionghoa menyebut kawasan ini
sebagai Nan-hai ("Kepulauan Laut
Selatan"). Berbagai catatan kuno
bangsa India menamai kepulauan ini
Dwipantara ("Kepulauan Tanah
Seberang"), nama yang diturunkan
dari kata dalam bahasa Sanskerta
dwipa (pulau) dan antara (luar,
seberang). Kisah Ramayana karya
pujangga Walmiki menceritakan
pencarian terhadap Sinta, istri Rama
yang diculik Rahwana , sampai ke
Suwarnadwipa ("Pulau Emas",
diperkirakan Pulau Sumatera
sekarang) yang terletak di Kepulauan
Dwipantara.
Bangsa Arab menyebut wilayah
kepulauan itu sebagai Jaza'ir al-Jawi
(Kepulauan Jawa ). Nama Latin untuk
kemenyan, benzoe , berasal dari nama
bahasa Arab , luban jawi ("kemenyan
Jawa"), sebab para pedagang Arab
memperoleh kemenyan dari batang
pohon Styrax sumatrana yang dahulu
hanya tumbuh di Sumatera. Sampai
hari ini jemaah haji kita masih sering
dipanggil "orang Jawa" oleh orang
Arab, termasuk untuk orang Indonesia
dari luar Jawa sekali pun. Dalam
bahasa Arab juga dikenal nama-nama
Samathrah (Sumatera), Sholibis ( Pulau
Sulawesi ), dan Sundah (Sunda) yang
disebut kulluh Jawi ("semuanya
Jawa").
Bangsa-bangsa Eropa yang pertama
kali datang beranggapan bahwa Asia
hanya terdiri dari orang Arab, Persia,
India , dan Tiongkok . Bagi mereka,
daerah yang terbentang luas antara
Persia dan Tiongkok semuanya adalah
Hindia. Jazirah Asia Selatan mereka
sebut "Hindia Muka" dan daratan Asia
Tenggara dinamai "Hindia Belakang",
sementara kepulauan ini memperoleh
nama Kepulauan Hindia (Indische
Archipel, Indian Archipelago,
l'Archipel Indien ) atau Hindia Timur
(Oost Indie , East Indies, Indes
Orientales ). Nama lain yang kelak
juga dipakai adalah "Kepulauan
Melayu " (Maleische Archipel , Malay
Archipelago, l'Archipel Malais ). Unit
politik yang berada di bawah jajahan
Belanda memiliki nama resmi
Nederlandsch-Indie (Hindia-Belanda ).
Pemerintah pendudukan Jepang
1942 -1945 memakai istilah To-Indo
(Hindia Timur) untuk menyebut
wilayah taklukannya di kepulauan ini.
Eduard Douwes Dekker (1820 -1887 ),
yang dikenal dengan nama samaran
Multatuli , pernah memakai nama yang
spesifik untuk menyebutkan kepulauan
Indonesia, yaitu "Insulinde ", yang
artinya juga "Kepulauan
Hindia" (dalam bahasa Latin " insula"
berarti pulau). Nama "Insulinde" ini
selanjutnya kurang populer, walau
pernah menjadi nama surat kabar dan
organisasi pergerakan di awal abad
ke-20 .
Nama Indonesia
Ki Hajar Dewantara, salah satu
pribumi yang pertama kali
menggunakan nama Indonesia ketika
mendirikan sebuah biro pers dengan
nama Indonesische Persbureau.
Pada tahun 1847 di Singapura terbit
sebuah majalah ilmiah tahunan,
Journal of the Indian Archipelago and
Eastern Asia (JIAEA, BI: "Jurnal
Kepulauan Hindia dan Asia Timur")),
yang dikelola oleh James Richardson
Logan ( 1819- 1869 ), seorang
Skotlandia yang meraih sarjana
hukum dari Universitas Edinburgh.
Kemudian pada tahun 1849 seorang
ahli etnologi bangsa Inggris , George
Samuel Windsor Earl ( 1813- 1865 ),
menggabungkan diri sebagai redaksi
majalah JIAEA.
Dalam JIAEA volume IV tahun 1850 ,
halaman 66-74, Earl menulis artikel
On the Leading Characteristics of the
Papuan, Australian and Malay-
Polynesian Nations ("Pada
Karakteristik Terkemuka dari Bangsa-
bangsa Papua, Australia dan Melayu-
Polinesia"). Dalam artikelnya itu Earl
menegaskan bahwa sudah tiba
saatnya bagi penduduk Kepulauan
Hindia atau Kepulauan Melayu untuk
memiliki nama khas ( a distinctive
name ), sebab nama Hindia tidaklah
tepat dan sering rancu dengan
penyebutan India yang lain. Earl
mengajukan dua pilihan nama:
Indunesia atau Malayunesia (" nesos"
dalam bahasa Yunani berarti "pulau ").
Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis
(diterjemahkan ke Bahasa Indonesia
dari Bahasa Inggris):
"... Penduduk Kepulauan Hindia
atau Kepulauan Melayu masing-
masing akan menjadi "Orang
Indunesia" atau "Orang
Malayunesia" ".
Earl sendiri menyatakan memilih
nama Malayunesia (Kepulauan
Melayu) daripada Indunesia
(Kepulauan Hindia), sebab
Malayunesia sangat tepat untuk ras
Melayu, sedangkan Indunesia bisa
juga digunakan untuk Ceylon (sebutan
Srilanka saat itu) dan Maldives
(sebutan asing untuk Kepulauan
Maladewa). Earl berpendapat juga
bahwa bahasa Melayu dipakai di
seluruh kepulauan ini. Dalam
tulisannya itu Earl memang
menggunakan istilah Malayunesia dan
tidak memakai istilah Indunesia.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga,
halaman 252-347, James Richardson
Logan menulis artikel The Ethnology of
the Indian Archipelago ("Etnologi dari
Kepulauan Hindia"). Pada awal
tulisannya, Logan pun menyatakan
perlunya nama khas bagi kepulauan
tanah air kita, sebab istilah Indian
Archipelago ("Kepulauan Hindia")
terlalu panjang dan membingungkan.
Logan kemudian memungut nama
Indunesia yang dibuang Earl, dan huruf
u digantinya dengan huruf o agar
ucapannya lebih baik. Maka lahirlah
istilah Indonesia. [1] Dan itu
membuktikan bahwa sebagian
kalangan Eropa tetap meyakini bahwa
penduduk di kepulauan ini adalah
Indian, sebuah julukan yang
dipertahankan karena sudah terlanjur
akrab di Eropa.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia
muncul di dunia dengan tercetak pada
halaman 254 dalam tulisan Logan
(diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):
"Mr Earl menyarankan istilah
etnografi "Indunesian", tetapi
menolaknya dan mendukung
"Malayunesian". Saya lebih suka
istilah geografis murni "Indonesia",
yang hanya sinonim yang lebih
pendek untuk Pulau-pulau Hindia
atau Kepulauan Hindia "
Ketika mengusulkan nama "Indonesia"
agaknya Logan tidak menyadari bahwa
di kemudian hari nama itu akan
menjadi nama resmi. Sejak saat itu
Logan secara konsisten menggunakan
nama "Indonesia" dalam tulisan-
tulisan ilmiahnya, dan lambat laun
pemakaian istilah ini menyebar di
kalangan para ilmuwan bidang
etnologi dan geografi. [1]
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di
Universitas Berlin yang bernama Adolf
Bastian ( 1826- 1905) menerbitkan
buku Indonesien oder die Inseln des
Malayischen Archipel ("Indonesia atau
Pulau-pulau di Kepulauan Melayu")
sebanyak lima volume, yang memuat
hasil penelitiannya ketika
mengembara di kepulauan itu pada
tahun 1864 sampai 1880 . Buku Bastian
inilah yang memopulerkan istilah
"Indonesia" di kalangan sarjana
Belanda, sehingga sempat timbul
anggapan bahwa istilah "Indonesia" itu
ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak
benar itu, antara lain tercantum dalam
Encyclopedie van Nederlandsch-Indië
tahun 1918 . Pada kenyataannya,
Bastian mengambil istilah "Indonesia"
itu dari tulisan-tulisan Logan.
Pribumi yang mula-mula
menggunakan istilah "Indonesia"
adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar
Dewantara ). Ketika dibuang ke negeri
Belanda tahun 1913 ia mendirikan
sebuah biro pers dengan nama
Indonesische Persbureau. Nama
Indonesisch (pelafalan Belanda untuk
"Indonesia") juga diperkenalkan
sebagai pengganti Indisch ("Hindia")
oleh Prof Cornelis van Vollenhoven
(1917). Sejalan dengan itu, inlander
("pribumi") diganti dengan Indonesiër
("orang Indonesia")..
Politik
Pada dasawarsa 1920-an , nama
"Indonesia" yang merupakan istilah
ilmiah dalam etnologi dan geografi itu
diambil alih oleh tokoh-tokoh
pergerakan kemerdekaan Indonesia,
sehingga nama "Indonesia" akhirnya
memiliki makna politis, yaitu identitas
suatu bangsa yang memperjuangkan
kemerdekaan. Sebagai akibatnya,
pemerintah Belanda mulai curiga dan
waspada terhadap pemakaian kata
ciptaan Logan itu. [1]
Pada tahun 1922 atas inisiatif
Mohammad Hatta , seorang mahasiswa
Handels Hoogeschool (Sekolah Tinggi
Ekonomi) di Rotterdam, organisasi
pelajar dan mahasiswa Hindia di
Negeri Belanda (yang terbentuk tahun
1908 dengan nama Indische
Vereeniging) berubah nama menjadi
Indonesische Vereeniging atau
Perhimpoenan Indonesia. Majalah
mereka, Hindia Poetra , berganti nama
menjadi Indonesia Merdeka .
Bung Hatta menegaskan dalam
tulisannya,
"Negara Indonesia Merdeka yang
akan datang ( de toekomstige vrije
Indonesische staat ) mustahil
disebut "Hindia-Belanda". Juga
tidak "Hindia" saja, sebab dapat
menimbulkan kekeliruan dengan
India yang asli. Bagi kami nama
Indonesia menyatakan suatu tujuan
politik ( een politiek doel ), karena
melambangkan dan mencita-
citakan suatu tanah air pada masa
depan, dan untuk mewujudkannya
tiap orang Indonesia (Indonesiër)
akan berusaha dengan segala
tenaga dan kemampuannya. "
Di Indonesia Dr. Sutomo mendirikan
Indonesische Studie Club pada tahun
1924 . Tahun itu juga Perserikatan
Komunis Hindia berganti nama
menjadi Partai Komunis Indonesia
(PKI). Pada tahun 1925 Jong
Islamieten Bond membentuk
kepanduan Nationaal Indonesische
Padvinderij ( Natipij). Itulah tiga
organisasi di tanah air yang mula-
mula menggunakan nama "Indonesia".
Akhirnya nama "Indonesia" dinobatkan
sebagai nama tanah air, bangsa, dan
bahasa pada Kerapatan Pemoeda-
Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober
1928 , yang kini dikenal dengan
sebutan Sumpah Pemuda.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang
anggota Volksraad (Dewan Rakyat;
parlemen Hindia-Belanda),
Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho
Purbohadidjojo, dan Sutardjo
Kartohadikusumo, mengajukan mosi
kepada Pemerintah Belanda agar
nama Indonesië diresmikan sebagai
pengganti nama "Nederlandsch-
Indie". Permohonan ini ditolak.
Sementara itu, Kamus
Poerwadarminta yang diterbitkan pada
tahun yang sama mencantumkan lema
nusantara sebagai bahasa Kawi untuk
"kapuloan (Indonesiah)".
Dengan pendudukan Jepang pada
tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama
"Hindia-Belanda". Pada tanggal 17
Agustus 1945, menyusul deklarasi
Proklamasi Kemerdekaan, lahirlah
Republik Indonesia.